Cerita Rakyat Nias Legenda Gunung Lolomatua

Salah satu wilayah yang cukup terkenal dari pulau Nias yaitu Lolomatua (bahasa Nias ditulis: Lölömatua). Lölömatua adalah nama sebuah wilayah kecamatan yang berlokasi di Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.

Konon katanya, ada cerita rakyat yang bersumber dari wilayah ini. Cerita tersebut mengenai asal usul/legenda gunung Lölömatua.

Teman-teman infonias pernah gak mendengar ceritanya? Kalau belum, kebetulan admin punya ceritanya yang dikutip dari situs berita online yang berasal dari daerah Nias Selatan.

Seperti apa kisahnya?? yuk baca cerita rakyat Nias legenda gunung lolomatua selengkapnya melalui ulasan berikut ini.


Cerita Rakyat Gunung Lölömatua

Cerita Rakyat Nias Legenda Gunung Lolomatua
Cerita Rakyat Nias Legenda Gunung Lolomatua (Foto: Angel Giawa)

Perkumpulan gunung tertinggi di Nias disebut Bawololo. Bukan hanya satu gunung melainkan tiga gunung yang saling berhimpitan. Sebelah Selatan terdapat Gunung Lölömatua. Sebelah Utara terdapat gunung yang paling tinggi dan luas disebut Gunung Sobalikhi.

Konon, diatas gunung tersebut terdapat sebuah gua besar yang merupakan rumah Ndruru yang berada disela-sela akar pepohonan.

Di gunung Bawölölö, menikahlah saudara perempuan Ndruru yang bernama Lölö dan ditempatkan digunung yang paling rendah di gunung Lölö’alawe.

Digunung inilah mereka dikaruniakan seorang anak yang tangguh dan mempunyai kekuatan supranatural bernama Silimazauwu yang kemudian tinggal dan tumbuh besar di gunung Lölömatua. Siliwimazauwu ini adalah orang yang mempunyai harta yang berlimpah-limpah dan telah terkubur didasar gunung tersebut.

Sumber dari hartanya adalah berasal dari anak gadisnya yang sangat mempesona dan cantik nan jelita, gadis yang tiada tanding pada masanya. Dia bernama Futi. Pada suatu ketika, datanglah Silaharondrawa bertamu dirumah Siliwimazauwu dari kampung seberang lautan. Dia sudah lama melihat anak gadis dari Silimazauwu dan berniat menjadikannya sebagai menantu.

“Mari kita satukan hati untuk berbesan” kata Silaharondrawa penuh harapan.

“Saya setuju, anak saya dinikahkan dengan anakmu. Namun, kalian harus menyiapkan sembilan penanda jujuran, sembilan kaleng dollar, sembilan ikat besi, sembilan ekor babi atau lebih, baju dan yang lainnya” jawab Silimazauwu menjabarkan jujuran putrinya.

“Hal itu akan kami sediakan asalkan pernikahan ini berlangsung” kata Silaharöndrawa mengangguk dengan tersenyum pasti.

Setelah itu, berturut-turut pihak Silaharondrawa membawa emas dan harta untuk melangsungkan pesta adat dan pernikahan.

Namun, Siliwimazauwu sangat cerdik dan licik. Dia tidak ingin sumber segala hartanya dibawa begitu saja. Hal itu, dibuatnyalah sebuah patung dari kayu Ma’uso sebagai wujud pengganti anaknya. Pada hari pernikahan yang telah tiba, dia menyembunyikan putrinya itu di ruangan berkaca di dalam gua. Setelah semua proses adat selesai, Siliwimazauwu memberi pesan dan amanah kepada patung anaknya tersebut.

Silimazauwu mendekatinya dan berkata “Nak, sesampainya nanti disana, jangan pernah mengarah ke arah tempatku berada selama sembilan hari sembilan malam”. Hal yang sama, dia juga memberi amanah kepada menantunya “Jangan bercakap kepada istrimu selama tujuh malam”. Menantunya hanya mengangguk pertanda paham.

Pada suatu hari sebelum tujuh malam, pengantin perempuan mandi kesumur ditempat suaminya.

Sepulang dari situ, dia menyisir rambut mengarah rumah orangtuanya. Hal itu membuat suaminya mengingatkannya. “Jangan menoleh kearah rumah orangtua kita yang ada dikampungmu” kata suaminya mengingatkan.

Namun, hal tersebut sukses membuat pengantin terpana mendengar suara dari suaminya sehingga dia membalas perkataan itu. Seketika setelah selesai bicara, tubuhnya tergeletak di lantai dan kembali menjadi kayu Ma’usö serta berhamburan kesana kemari. Hal ini kemudian menyadarkan anak Silaharöndrawa bahwa Siliwimazauwu telah menipu mereka. Segera dia memberitahu orangtuanya.

“Siliwimazauwu telah menipu kita dengan membuat patung anaknya dari kayu. Untuk harta yang telah dia ambil, ayo kita serbu dan balas dendam” kata Silaharöndrawa berapi-api.

Perintah itu mengantarkan mereka untuk berperang. Mereka menggunakan perahu kayu untuk menyeberangi lautan yang sangat luas. Setelah sampai, mereka istirahat sejenak di kaki gunung desa tersebut. Sementara itu, Siliwimazauwu sedang ada di rumahnya di atas gunung. Dia ketakutan melihat banyaknya pasukan yang akan menyerbunya. Hal itu terlihat bagaimana dia berpakaian seperti kucing dan berdandan seperti anjing membuatnya menari- nari diatap rumahnya. Semua pasukan terheran- heran dan tertawa terbahak- bakak.

Pada saat bersamaan, datanglah angin puting beliung serta gemuruh langit yang keras sehingga menyambar mereka dan jadilah mereka patung hingga hari ini.

Tak lama kemudian, Siliwimazauwu kembali menerima pinangan untuk anak perempuan dari seberang pulau. Dia menerima banyak emas. Akan tetapi, ketika pernikahan berlangsung pengganti anaknya dari kayu Ma’usölah yang menjadi pengantin perempuan. Selesai acara, dia menghampiri menantunya dan berkata “Jangan bercakap dengan istrimu dan juga jangan tidur bersama selama tiga hari tiga malam”.

Karena pengantin laki- laki tidak sabar untuk berbicara dengan istrinya tersebut, maka dia melanggar tiga hari tiga malam ikrar suci yang telah disampaikan mertuanya untuk tidak berhubungan dengan istrinya. “Dik,buatkan aku sirih” katanya. Perempuan itu terkejut dan refleks menjawab “Mengapa engkau berbicara untuk membuat sirihmu? Apakah engkau sudah melupakan ikrar suci yang disampaikan oleh orangtua kita?”

Namun, laki- laki itu tidak menggubris. Dia dengan terpaksa meraba perempuan itu dan menidurinya. Perempuan itu tak berdaya dan akhirnya menjadi kayu kembali.

Setelah mengetahui kebusukan Siliwimazauwu, mereka juga menyerang dikediamannya. Namun, sekali lagi berkat kekuatan Siliwimazauwu yang kuat, mereka tersambar petir dan berakhir menjadi patung.

Suatu hari setelah sekian lama, beberapa orang kesana datang untuk menebang kayu untuk bahan bakar. Tetapi, mereka kemalaman sehingga jalan pulang sudah tak tampak. Mereka ingin sekali melepas lelah setelah seharian bekerja.

Namun, tiba- tiba mereka melihat ada sebuah rumah yang besar dan indah ditengah hutan tersebut. Mereka mendatangi rumah itu dan tampaklah seorang kakek yang tinggi dengan rambut yang sangat panjang menyambut mereka dengan hangat. Kakek itu menyediakan makanan yang terbaik seperti hidangan menyambut para penatua adat. Keesokan harinya, beliau memberikan oleh- oleh yang sangat banyak untuk dibawa pulang, beberapa ekor babi berukuran besar serta ubi kayu dan buah-buahan lainnya.

Catatan: Artikel ini hasil wawancara dengan tokoh masyarakat Puncak Lolomatua (Bapak Ama Yarina Bu'ulolo)

Pustaka: Giawa, Angela Yurmani. 2022. "Cerita Rakyat Gunung Lölömatua". https://www.saluranmedia.com/wisata/pr-5383875191/cerita-rakyat-gunung-l%C3%B6l%C3%B6matua, diakses pada tanggal 19 Juli 2022 pukul 17.02 WIB.

Demikian ulasan tentang cerita rakyat Nias asal usul gunung Lölömatua, semoga bermanfaat bagi kita semua. Jangan lupa membagikannya kepada teman-teman yang lain. Saohagölö, Ya'ahowu.

Post a Comment