7 Keunikan Suku Nias yang Menarik untuk Diketahui
Suku Nias memiliki banyak keunikan seperti halnya suku yang lain di Indonesia. Sebagai salah satu suku bangsa yang besar, Nias juga memiliki banyak fakta dan ciri khas menarik untuk diketahui.
Suku Nias berasal dari Pulau Nias dan termasuk otonomi daerah Provinsi Sumatera Utara. Selain mempunyai kekayaan alam berlimpah, pulau Nias juga terkenal dengan budaya, adat istiadat dan panorama wisata yang indah dan cukup dikagumi oleh berbagai wisatawan dalam negeri maupun manca negara.
Pulau Nias terletak di sebelah barat pulau Sumatra berdekatan dengan Samudra Hindia. Dalam bahasa daerah Nias, Pulau Nias dikenal dengan istilah Tanö Niha. Pulau dengan luas wilayah 5.625 km² ini berpenduduk 1.000.000 jiwa lebih dan sudah terbagi dalam 5 daerah administrasi yaitu 4 kabupaten dan 1 kota.
Pembagian daerah pemerintahan di pulau Nias terdiri atas Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias Utara dan Kabupaten Nias Barat.
Suku Nias adalah salah satu kelompok etnik di Indonesia yang lahir, tinggal dan menetap di pulau Nias. Walau sekarang sebagian penduduk suku Nias ada juga yang menetap diberbagai daerah di Indonesia. Beberapa istilah penamaan suku Nias yang cukup familiar seperti ono niha, niha khöda, niha danö niha, banuada, talifusöda.
Dikutip dari kompas, disebutkan bahwa suku nias termasuk dalam golongan ras / rumpun Austronesia.
Langsung saja berikut ulasan tentang 7 keunikan suku Nias yang menarik untuk diketahui.
1. Mengucap Salam
Pernahkah anda bertemu dengan orang Nias lalu anda disambut dengan jabatan tangan sambil mengucapkan kata ya'ahowu?? Apa arti kata ini? Ya'ahowu adalah ucapan salam khas suku Nias.
Saat berjumpa dijalan suku Nias pasti mengucapkan salam ini. Demikian ketika misalnya bertamu ke rumah antar sesama suku Nias. Begitu sampai dipekarangan rumah maka salam ini harus dituturkan.
Ucapan ini dibalas dengan ucapan yang sama juga yaitu Ya'ahowu.
Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai ucapan salam khas suku Nias ini bisa teman-teman baca melalui artikel ya'ahowu salam tegur sapa khas suku Nias.
2. Kebiasaan Mengunyah Sirih
Keunikan suku Nias yang kedua yaitu mengunyah sirih. Biasanya sirih ditawarkan kepada seseorang yang bertamu di keluarga ataupun berkunjung ke rumah suku Nias.
Kebiasaan mengunyah sirih merupakan salah satu tradisi turun temurun yang masih terlestari dengan baik hingga saat ini. Dalam penuturan aslinya, kebiasaan ini dinamakan dengan manga afo atau monganga nafo.
Setidaknya ada 5 (lima) bahan yang digunakan ketika hendak mengunyah sirih yaitu tawuo (daun sirih), betua (kapur), gambe (daun gambir), bago (tembakau), dan fino (buah pinang). Racikan kelima bahan ini disebut Afo.
Terkadang yang baru belajar cukup menggunakan 4 bahan saja tanpa tembakau, karena efek sampingnya adalah bisa membuat pusing ataupun pening.
Sirih bisa dikunyah baik perempuan maupun laki-laki.
Selain itu, tradisi mengunyah sirih ini juga merupakan salah satu simbol budaya yang dijadikan sebagai bagian dari pelaksanaan acara-acara adat di Nias. Contohnya ketika pesta pernikahan maka ada salah satu acara yang dikhususkan untuk menyerahkan dan menerima afo yang dilakukan antara tamu (tome) dan si pangkalan (sowatö).
Cara ini harus dilakukan sebagai bentuk penghormatan pihak si pangkalan dalam menyambut tamu atau undangan yang datang pada upacara pesta tersebut.
Makanya jangan heran bila anda berkunjung dipulau Nias, anda pasti disambut dengan sekapur sirih (afo), itu tandanya bahwa suku Nias menempatkanmu sebagai seseorang yang begitu dihargai dan dihormati.
Bahkan acara pemberian sekapur sirih ini sebagian dilakukan dengan disertai tari persembahan atau diistilahkan dengan tari fame'e afo.
3. Satu Bahasa Dengan 3 Dialek
Nama bahasa daerah suku Nias adalah bahasa Nias. Umumnya orang Nias menyebutnya dengan istilah li niha. Uniknya, dalam penuturan bahasa Nias dikenal dengan 3 dialek berbeda.
Ini artinya bahwa meski suku Nias tinggal dalam satu daratan pulau yang sama namun dalam berkomunikasi setiap harinya menggunakan 3 variasi bahasa.
Adapun ke 3 dialek bahasa Nias yaitu dialek utara, dialek tengah, dan dialek selatan. Dialek utara dituturkan oleh suku Nias yang tinggal di kabupaten Nias Utara, kota Gunungsitoli dan kabupaten Nias. Dialek Tengah dituturkan oleh suku Nias di daerah kabupaten Nias Barat, sementara dialek selatan dituturkan oleh suku Nias yang berasal dari kabupaten Nias Selatan.
Perbedaan dialek li niha umumnya ditandai dengan perbedaan kata, logat / intonasi serta cara pengucapannya. Seperti dialek selatan yang dikenal dengan intonasi yang lebih tegas.
4. Memiliki Marga
Marga bagi suku Nias umpamanya seperti clan atau family name yang selalu melekat pada nama seseorang dan biasa ditulis sebagai nama akhir orang Nias.
Penggunaan marga Nias merupakan bukti bahwa suku Nias mengadopsi budaya patriarki dengan garis keturunan mengikuti bapak / ayah. Dimanapun suku Nias berada, baik di kampung halaman maupun di perantauan, bila bertemu satu sama lain ataupun belum saling mengenal maka mereka pasti akan bertanya mengenai marga masing-masing.
Marga menempati posisi penting sebagai penentu kekerabatan serta penelusuran asal mula seseorang dari etnik suku Nias. Selain itu, melalui marga maka seseorang bisa mengetahui hubungan antar sesama suku Nias.
Misalnya seseorang yang mempunyai marga yang sama dengan ibunya maka untuk laki-laki dipanggil dengan sebutan paman (sibaya) sementara untuk perempuan dipanggil tante (ina lawe).
Lain halnya untuk dua orang yang mempunyai marga ibu yang sama maka keduanya boleh menyebut satu sama lain dengan istilah gasiwa / ziwa.
5. Pernikahan Dengan Biaya Termahal
Keunikan suku Nias yang cukup menarik yaitu sistem budaya pernikahan yang masih dipertahankan hingga sekarang sesuai dengan adat dan budaya yang digunakan zaman nenek moyang dulu.
Melalui pernikahan adat Nias menempatkan suku Nias sebagai salah satu suku yang membutuhkan biaya pernikahan adat termahal di Indonesia. Bagaimana tidak? Besaran biaya pernikahan adat Nias (mahar) atau dalam li niha dikenal dengan istilah böwö ditentukan berdasarkan kasta seorang calon pengantin perempuan.
Selain dilihat dari pendidikannya. Biasanya semakin tinggi tingkat pendidikan mempelai wanita, semakin tinggi pula mahar yang diminta kepada mempelai laki-laki.
Biaya yang dikeluarkan untuk melangsungkan pernikahan dengan adat Nias dapat mencapai angka lebih dari Rp200 juta karena terdiri dari berbagai tahapan yang harus dilalui sebelum menuju hari H upacara pernikahan.
Diluar 2 ekor babi adat (daerah Nias barat biasanya 3 ekor) dan puluhan babi lainnya yang diperuntukkan sebagai makanan penghormatan (fasumangeta) dalam pelaksanaan setiap tahapan pernikahan adat Nias. Bila ditotalkan jumlah keseluruhan babi mencapai 25 ekor.
Tetapi ukuran ke-25 babi yang diminta berbeda-beda. Hanya 2 ekor babi adat saja yang ditentukan. Umumnya memiliki ukuran lingkar dada dari 9 hingga 12 alisi. Selain itu ukurannya bervariasi mulai dari 5 hingga 8 alisi.
6. Melompati Tumpukkan Batu
Salah satu tradisi unik dan terkenal yang dilakukan oleh suku Nias adalah kesanggupan melompati tumpukkan batu. Dalam bahasa Nias dinamakan dengan fahombo.
Tradisi ini lebih familiar dengan istilah lompat batu Nias yaitu sebuah tradisi yang berasal dari Nias dan hanya dilakukan oleh laki-laki suku Nias dengan cara melompati tumpukkan batu setinggi 2 meter. Zaman dulu, laki-laki Nias yang mampu melakukan kegiatan ini menunjukkan bahwa dirinya sudah pantas dianggap dewasa secara fisik.
Saat ini tradisi lompat batu ditampilkan pada acara-acara adat dan dijadikan sebagai pertunjukkan menarik yang dikhususkan untuk wisatawan yang berkunjung ke pulau Nias.
Bagaimana cara melakukan tradisi lompat batu Nias? Silahkan baca melalui artikel tradisi lompat batu Suku Nias yang mendunia.
7. Membuat Rumah Tanpa Paku
Keunikan suku Nias yang mungkin jarang ditemui dari suku lainnya di Indonesia yaitu kemampuan membuat rumah tanpa paku. Konstruksinya pun benar-benar kokoh dan tahan gempa.
Rumah yang dibuat biasanya berbentuk rumah panggung dan dibangun diatas lempengan batu dengan menggunakan tiang penyangga bernama ndriwa yang disusun secara bervariasi, dibagian luar disusun secara vertikal sementa ditengah-tengahnya disusun secara diagonal. Jenis kayu yang digunakan sangat keras yaitu kayu nibung / manawa. Sementara untuk rangka dan dinding rumah menggunakan jenis kayu simalambuo.
Bangunan yang dibuat oleh suku Nias ini benar-benar menggunakan metode tradisional tanpa menggunakan paku sama sekali. Contoh rumah ini yaitu rumah adat Nias atau disebut dengan omo hada.
Nah itu saja ulasan tentang keunikan suku Nias yang menarik untuk diketahui. Semoga bermanfaat untuk kita semua. Jangan lupa membagikan artikel ini kepada teman-teman yang lain. Ya'ahowu.
