Mengenal Istilah Taksiran Waktu Menurut Tradisi Masyarakat Nias
Sudah sejak dulu, ketika jam dinding atau jam tangan (aralozi / tandra luo) tidak begitu dikenal di daerah pulau Nias atau hanya dimiliki oleh sejumlah orang saja, masyarakat Nias di pedesaan masih mengandalkan cara-cara “pragmatis” untuk menyatakan pembagian waktu sepanjang hari.
Cara-cara “pragmatis” pembagian waktu ini lebih banyak menggunakan perkiraan atau penaksiran. Misalnya mengaitkannya dengan kebiasaan / kegiatan sehari-hari yang sudah lazim dilakukan seperti bertani, beternak atau aktivitas harian yang lain (memasak, makan, tidur, dan sebagainya).
Generasi 90-an pasti masih familiar akan istilah taksiran waktu ini.
Walau sekarang tak lagi digunakan, tetapi ada baiknya sebagai generasi milenial suku Nias mengenal perkiraan pembagian waktu ini. Anggaplah sebagai tambahan pengetahuan akan taksiran waktu dalam bahasa Nias.
Tak perlu banyak basa basi, ayo cari tahu melalui penjelasan berikut.
Istilah Taksiran Waktu Dalam Bahasa Nias
- Bōzi / Bōji / Pukul. 00.00 = Talu mbongi (tengah malam)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 01.00 = Aefa talu mbongi (Lepas tengah malam)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 02.00 = Samuza kiarō (waktu terjaga pertama)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 02.00 - 02.30 = Miwo manu sifōfōna (Ayam berkokok pertama kali)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 03.00 = Miwo manu si mendrua (Ayam berkokok kedua kalinya)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 04.00 = Miwo manu si tatalu (Ayam berkokok pertengahan)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 05.00 = Miwo manu si fadoro (Ayam berkokok beruntun dan bersahutan)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 05.00 = Mōi zamōlō (Penyadap aren pergi menyadap)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 05.15 = Miwo manu safuria (Ayam berkokok untuk terakhir kalinya)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 05.30 = Afusi (ne)wali (Pekarangan rumah mulai “putih” mulai terang)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 05.50 - 06.00 = Muhede riwi (jangkrik berbunyi)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 06.00 = Tumbu luo (Matahari terbit)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 06.30 = Ahulō wongi, mofanō niha ba halōwō (Pagi sekali, orang pergi bekerja)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 07.00 = Aefa zi mōi tou, te’anō niha ba halōwō (Orang pulang buang air, para pekerja sudah pada kumpul semua)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 08.00 = Otufo namo (Embun pagi mengering)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 10.00 = Aukhu zino, mombambaya gōniha (Udara mulai panas, makanan mulai dimasak)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 11.00 = Mangawuli zimilo, inōtō wemanga (Orang pulang kerja, waktu makan)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 12.00 = Laluo (Tengah hari)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 13.00 = Ahole yōu (Matahari “miring” ke utara)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 15.00 = Aso’a yōu (Matahari “tumbang” ke utara)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 16.00 = Alawu adogo (Matahari jatuh dekat)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 17.00 = Mangawuli zimilo / zoroi ba danō (Orang pulang kerja) = Mondra’u manu (Menangkap ayam, memasukkan ayam dalam kandang)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 17.00 - 18.00 = Manuge manu (Ayam hinggap di kandang)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 18.30 = Ogōmigōmi, manunu fandru (Gelap, lampu dihidupkan)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 18.30 - 19.00 = Mondrino gō (Memasak makanan)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 19.00 - 20.00 = Asoso gō, manga niha sahulō (Makanan masak, waktu makan malam dini)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 21.00 = Manga niha sara (Waktu makan malam yang telat)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 22.00 = Mōrō niha (Orang pergi ke tempat tidur)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 22.30 - 23.00 = Ahono mōrō niha (Orang terlelap)
- Bōzi / Bōji / Pukul. 23.00 - 00.00 = Saraō tō mbongi (Malam tinggal “sepertiga” Lagi).
Agar lebih jelas, berikut pemaparan terkait istilah perkiraan waktu di atas.
Malam atau tengah malam disebut talu mbongi. Sekitar satu jam setelah talu mbongi disebut “ aefa talu mbongi ” (lepas tengah malam).
Jam 02.00 disebut, “ sara tō mbongi” – malam tinggal “seperti tiga” lagi. Antara jam 02.00 - 02.30 ayam jantan berkokok untuk pertama kalinya ( miwo manu sifōfōna )
Sementara jam 03.00 ayam jantan biasanya berkokok untuk kedua kalinya ( miwo manu si mendrua ).
Bagaimana kalau tidak ada ayam di desa itu? Di zaman dulu, salah satu bentuk “perbankan” atau cara menyimpan harta masyarakat Nias adalah memeliharan ayam atau babi. Memelihara ayam dan babi menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas bertani masyarakat Nias: berladang, membuka sawah dan berkebun ubi.
Ketika panen sawah, ladang atau ubi, jumlah ternak ayam dan babi berkembang; pada musim paceklik, jumlah mereka menciut kembali.
Musim paceklik adalah kondisi untuk menggambarkan bahwa tanaman yang sudah dengan susah payah ditanam ternyata tidak menghasilkan karena banyak faktor, salah satunya masa kemarau panjang.
Jam 04.00 adalah waktu ayam berkokok untuk ketiga kalinya - miwo manu si tatalu atau si medōlu.
Sementara jam 05.00 biasanya ditandai dengan kokok ayam yang beruntun dan bersahutan (miwo manu si fadoro ).
Jam 05.00 pagi adalah juga waktu para penyadap aren ( sogai akhe = samōlō ) pergi menyadap aren dan menampung nira.
Sekitar lima belas menit kemudian (jam 05.15), ayam berkokok untuk terakhir kalinya ( miwo manu safuria ) dalam kandang sebelum keluar mancari makan.
Afusi wali - waktu di mana pekarangan rumah mulai “putih” (kelihatan “putih” bagi mata yang baru terbuka dari tidur sepanjang malam) – adalah sekitar jam 05.30 pagi.
Antara jam 05.30 – jam 06.00 pagi biasanya riwi-riwi (sejenis jangkrik, cicada - Tibicen canicularis) berbunyi - muhede riwi.
Dalam perkiraan waktu yang digunakan masyarakat Nias di zaman dulu. Yang kita temukan adalah kegiatan “menyadap aren” (mogai akhe ).
Mengapa ?
Padahal fangai gitō merupakan aktivitas ekonomi yang sempat meluas dan memberikan pengaruh besar di sejumlah daerah di Nias. Kita tidak tahu persis mengapa. Bisa jadi, fangai gitō merupakan kegiatan ekonomi yang belakangan diperkenalkan di Nias. Hal ini bisa menjadi bahan kajian yang menarik bagi yang berminat.
Jam 06.00 adalah waktu matahari terbit (tumbu luo).
Jam 06.30, ahulō wongi, mofanō niha ba halōwō (pagi sekali, orang pergi bekerja).
Jam 07.30: aefa zi mōi tou, te’anō niha ba halōwō (orang pulang buang air, para pekerja sudah sampai pada lokasi dan mulai bekerja).
Jam 08.00 pagi otufo namo (embun pagi mengering dari rerumputan atau daun-daunan pohon).
Pekerja (yang pergi mengambi kayu api, ke sawah, ladang atau ke kebun ubi) biasanya pulang. Jam 11.00 pagi untuk mempersiapkan (memasak) makanan keluarga untuk siang hari. Jadi waktu mangauwuli zimilo adalah sekitar jam 11.00 pagi.
Laluo adalah istilah Li Niha untuk menyatakan jam 12.00 (tengah hari).
Matahari kelihatan “miring” ke utara (ahole yōu) pada sekitar jam 13.00.
Dan pada jam 15.00, matahari sudah kelihatan “tumbang” aso’a yōu.
Posisi matahari jam 16.00 disebut alawu adogo (“jatuh pendek”).
Jam 17.00 adalah waktu orang pulang kerja ( mangawuli zimilo / zoroi ba danō ).
Ayam yang biasanya dibebaskan pada siang hari ditangkap kembali untuk dimasukkan ke dalam kandang (mondra’u manu ). Ini sekitar jam 17.30.
Setelah “hingar-bingar” dalam kandang, akhirnya ayam-ayam tenang, bertengger di tempat masing-masing (manuge manu). Ini antara jam 17.00 - 18.00.
Jam 18.30 hari sudah gelap (ogōmigōmi) jadi lampu dinyalakan ( manunu fandru ).
Dulu, di desa-desa, penerangan sangat sederhana sekali. Sebelum minyak tanah dikenal di Nias, masyarakat Nias menggunakan minyak kelapa sebagai minyak bakar lampu, yang disebut ta’a-ta’a wandru ( fandru nifota’a-ta’a ).
Fandru ini dibuat dari botol yang dipotong dua. Bagian yang dasarnya tertutup diisi sebagian besar dengan air, lalu di atasnya dituangkan minyak kelapa setinggi kurang lebih tiga jari. Sumbu lampu diapungkan di bagian yang terisi minyak tadi, sementara ujungnya yang akan dinyalakan dikaitkan dengan kawat sebagai penahannya.
Sumber cahaya yang jauh lebih sederhana adalah dōgō, sulu , sandrari yang tidak memerlukan bahan bakar minyak. Sesudah minyak tanah masuk ke Nias, lampu yang lebih “modern” mulai dikenal: latera (lentera, lantern), fandru ndrindri (lampu dinding), fandru genefo , dan fandru gasi.
Sekitar satu jam, antara jam 18.00 dan 19.00 adalah waktu untuk memasak makanan ( mondrino gō ). Ini tentu saja kalau makanan yang dimasak tidak “istimewa”. Kalau “istimewa” (memotong babi atau ayam, terlebih kalau ada tamu khusus), maka memasak bisa memakan waktu yang cukup lama, 2- 3 jam.
Antara jam 00.18 – 19.00, makanan dimasak ( mondrino gō ).
Sementara jam 19.00 – 20.00 makanan masak dan dilanjutkan dengan makan malam dini (manga niha sahulō). Ini terjadi kalau orang cepat pulang dari kerja pada hari itu.
Orang makan telat ( manga niha sara) sekitar jam 09.00 apabila mereka telat pulang dari kerja, barangkali karena harus menyelesaikan pekerjaan tertentu di sawah, ladang atau di kebun ubi.
Karena televisi dan hiburan lain tidak ada, orang-orang desa biasanya pergi tidur cepat-cepat. Jam 22.00 adalah waktu pergi tidur ( mōrō niha ). Karena kecapekan fisik di siang hari tadi, orang-orang kampung cepat terlelap (ahono mōrō niha ) – katakanlah berkisar jam 22.30 – 23.00.
Pada jam 23.00, orang terjaga untuk pertama kalinya (samuza kiarō ).
Demikian ulasan tentang istilah penaksiran waktu menurut tradisi masyarakat Nias, semoga bermanfaat. Jangan lupa dibagikan kepada teman / sahabat / rekan yang lain. Ya'ahowu.
Sumber: facebook/Pasca.Telaumbanua

