Cerita Rakyat Nias Oyo ba Susua

Cerita Rakyat Nias Oyo ba Susua

Sobat tahu tidak apa nama sungai terpanjang di pulau Nias??

Nama sungai terpanjang di pulau Nias yaitu sungai Oyo (Noyo). Selain panjang, sungai ini cukup lebar dan merintangi berbagai daerah diwilayah kecamatan dan Kabupaten di pulau Nias. Bukan tanpa alasan, konon katanya - sesuai cerita kakek nenek dulu - ada sebuah dongeng yang mengisahkan tentang asal usul hingga sungai ini mempunyai lintasi sangat jauh sebelum akhirnya berlabuh ditepi lautan.

Admin dengar-dengar ni sewaktu kecil, daerah yang dilalui oleh sungai ini terbentuk dari lintasan belut bernama Oyo saat menuju lautan.



Kisahnya sudah menjadi cerita dari masa ke masa dan bahkan tak sedikit masyarakat pulau Nias yang percaya bahwa alur ceritanya benar adanya. Oyo dan Susua adalah salah satu cerita rakyat dari pulau Nias.

Sebelum pergantian kurikulum ke KTSP, legenda yang menceritakan tentang Oyo dan Susua pernah dijadikan materi pada pelajaran Bahasa Daerah Nias di bangku Sekolah Dasar Kelas IV. Walaupun pada kurikulum baru tidak dimasukkan lagi, bukan berarti teman-teman yang penasaran akan ceritanya tidak bisa membacanya.

Melalui tulisan ini, admin akan share kepada teman-teman semua yang ingin tahu tentang cerita rakyat Nias yang berjudul "Oyo ba Susua". Ada dua versi yang akan admin ulas disini yaitu versi manö-manö bahasa Nias dan terjemahan / artinya dalam Bahasa Indonesia. Ayo cari tahu ceritanya melalui ulasan ini, bacalah hingga akhir artikel.

Manö - Manö : Oyo ba Susua

So meföna dua rozi nono mbaewa ana'a si fahuwu sibai. Oyo döi zisara ba Susua döi zisara tö. La'iagö sambua nidanö side'ide. Fahuwu sibai ira. Gofu hadia ia khöra ba la'osara-sara'ö dödöra, he na so göra, he na so zomasi ira tanöbö'ö ba na so niera'erara.

Ambö nahara mbawa-nidanö si no ide'ide andrö.

Faoma lamane khö nawöra sökhi na taröi mbawa da'e talau maele ba nasi na bawa-ladu. Ewolo sibai nasi andrö, ebua ba abakha. Aefa dödöda wolangi-langi ba fagiasa ba da'ö. Oya göi tasöndra danömö göda ba da'ö, he uro, ba saliwa-saliwa ba nasi tanö bö'ö. Simanö göi mömö nasi, oi tanömö göda da'ö.

Me no oya itörö-tödöra zi tobali omusola dödöra ba nasi dania, lahalö gangetula, mofanö ira laröi mbawa-nidanö side'ide andrö. La'osa'ra'ö dödöra wa ba zibongi dania, na miwo manu simendrua, lalau mofanö. Li giwo'iwo manu da'ö dania zanusugi ya'ira. La'endrongagö wofanö ba la'osara'ö lalara. Lalau manö fao-fao, ena'ö lö ata'u ira ba lala, ba na so zika'ao fanörö, lafaoma lasahoi. Aefa da'ö fabali ira lasawa naha wolombasera zamösana, momörö.

Me miwo manu siföföna, tokea ira, imane dödönia Susua awena femiwo manu siföföna da'e da ufuli mörö ua. Ifakhölö ia Oyo, i'ila lö liwaa-liwa Zusua. Imane dödönia, akha irörö ia mörö Susua, uhulö ia wofanö, ena'ö alio urugi nasi ba u'aefa'ö dödögu wolangi ba da'ö. Mofanö Noyo, iröi Zusua.

Me miwo manu simendrua, maoso Zusua. Ifakhölö ia, lö hadöi Oyo. Mu'ao ia khö Noyo, ba lö fanema li. Abu dödönia, möi ia mu'alui Noyo ba naha nia, ba lö ya'ia. Ifakhölö ia ba zifasui, i'ila so dobala. Imane dödönia, no mofanö Noyo, no iröido, no ilimodo. Harumani ia. Abao-dödö Zusua khö Noyo. I'elifi Noyo, imane "ya faonö ndra'ugö ba danö, ya'iba'a ndra'ugö hili, ya meziwa fakhe awena atu'a'ö ba nasi." Aefa da'ö ilau mofanö Susua.

Isusu'ö manö ia Susua wofanö, lö tehadu-hadu ia wofanö. Lö somba'agö ya'ia, maele manö ia ba nasi. Ha moluo mahemolu'ö atu'a Zusua ba nasi, i'alui-alui Noyo ba nasi, lö falukha ira. Ifazu-fazui gulidanö, i'uroi nasi sewolo mangalui-ngalui Oyo, lö isöndra. Ifuli abu dödönia me lö sifalukha ira zifahuwu khönia. He no simanö ba lö ibato wangobini Oyo andrö.

Samuza ma'ökhö me no siwa fakhe ifakoli-koli ia Susua, isöndra Noyo, no mangolea ba gawu ba mbewenasi. I'ondrasi Noyo ifahede ba döröngasa itema-linia Oyo.

Ahakhö sibai dödö Zusua wamaigi Oyo. Tebai isöbi gi'onia Oyo, no faonö ba dambu solaza-laza. Muhede Noyo, itutunö khö Zusua, hawa'akao dödönia ba lala, faonö ia ba danö zolaza-laza, iba'aba'agö ia hili awö gara segebua.

No telu'igö khö Noyo wangelifi Zusua, börö me no falimo ia. Me no faoma ladunö-dunö waö-waöra, ba fabali ira, faoma sa'ae la'alui zauri ira. Fayagömöi Zusua khö Noyo bakha ba dödönia. Imane ya'alakha khöu andrö böi sa'ae falimo-limo.

Terjemahan Cerita Oyo Dan Susua

Dahulu kala ada dua ekor anak belut berwarna keemasan yang bersahabat. Salah satunya bernama Oyo dan Susua nama yang satunya lagi. Mereka tinggal bersama di sebuah hulu air berukuran kecil. Keduanya begitu bersahabat. Apa saja yang terjadi diantara keduanya selalu atas kesepakatan bersama, seperti ketika punya makanan, ketika ada hal lain yang mereka sukai ataupun mereka rencanakan.

Danau yang berukuran kecil itu menyebabkan mereka berdesakkan / kekurangan tempat.

Keduanya saling ngobrol dan menyepakati, sebaiknya kita meninggalkan danau ini, kita meluncur saja ke laut atau samudera. Laut ukurannya sangat luas, besar dan juga sangat dalam. Kita puas berenang dan bersenang-senang disana. Banyak pula jenis makanan disana, seperti udang dan segala binatang yang bergerak lainnya. Begitu juga dengan lumut laut, itu termasuk makanan kita.

Setelah mereka puas membicarakan segala kesenangan yang mereka dapatkan ketika di laut nantinya, akhirnya mereka membuat keputusan, mereka pergi meninggalkan danau kecil itu. Mereka sepakat bahwa tengah malam nanti, usai ayam berkukuk kedua kalinya, mereka segera berangkat. Suara kukuk ayam itu sebagai penanda mereka untuk segera bangun. Mereka sama-sama berangkat, melalui jalan yang sama. Mereka berjalan beriringan, agar tidak takut selama perjalanan, demikian bila melalui jalan yang sulit, keduanya saling singkap. Lalu kemudian mereka berpisah, menuju tempat istirahat masing-masing, mereka-pun tidur.

Ketika ayam berkukuk pertama kalinya, keduanya terbangun, dalam hati Susua berkata "ini baru suara kukuk ayam yang pertama, saya lanjutkan saja tidur". Oyo pun melihat sekitarnya, ia menyaksikan Susua yang tertidur pulas. Dalam hatinya ia berkata "biarlah Susua asyik tidur, saya berangkat duluan agar cepat sampai di laut, saya puaskan hatiku berenang disana". Noyo pun segera berangkat meninggalkan Susua.

Tiba saatnya terdengar suara kukuk ayam yang ke-dua (baca : istilah taksiran waktu menurut tradisi masyarakat nias), Susua terbangun dari tidurnya. Ia melihat sekelilingnya, ternyata Oyo tidak ada. Ia pun berteriak memanggil nama sahabatnya Oyo, tak satupun terdengar sahutan. Hatinya tidak tenang, ia bergegas mencari Oyo ditempat tidurnya, tapi ternyata tidak ada sama sekali. Akhirnya dia melihat sekeliling tempat tidur Oyo, ia menemui bekas lintasan. Dalam hatinya ia berkata "Noyo sudah pergi, ia meninggalkanku dan membohongiku. Tega sekali dia". Susua pun marah kepada Noyo, dia mengutuk Noyo, seperti ini "semoga kamu tergenang di tanah, dihalau oleh gunung, sembilan tahun lamanya kamu baru sampai di tepi laut". Setelah itu, Susua pun berangkat.

Susua pun berjalan menyusuri, tanpa tersendat-sendat saat berjalan. Tak ada satupun yang menghalanginya, ia meluncur dengan cepat ke laut. Esoknya, Susua sampai di laut. Lalu mencari Noyo kesana kemari, keduanya tak kujung bertemu. Diapun berkeliling dunia, menyisir berbagai tempat di lautan luas hanya untuk mencari Oyo, namun tak menemukannya. Dia pun tak senang karena tak bertemu dengan sahabatnya itu. Meskipun demikian, dia tidak akan berhenti mencari Oyo.

Suatu hari, setelah sembilan tahun lamanya Susua berkeliling-keliling, akhirnya dia bertemu dengan Oyo, sahabatnya itu sedang tergeletak di pasir tepi laut. Ia pun menghampiri dan menyapa Oyo tetapi dengan susah payah Oyo menyahutnya.

Susua merasa kasihan melihat Oyo. Ekornya pun tak bisa dia gerakkan oleh karena sudah tergenang dilumpuran sawah. Akhirnya Oyo bicara, menceritakan semuanya kepada Susua, betapa sengsaranya dia selama perjalanan, tergenang dilumpur, dihalangi oleh gunung dan berbagai bebatuan yang sangat besar.

Tertimpakan kepada Noyo segala kutukan Susua, karena dia telah menipu Susua. Usai menceritakan semua perjalanan mereka masing-masing, mereka pun berpisah, mereka berusaha sendiri untuk menyambung hidup. "Mampuslah kamu Noyo" gumam Susua dalam hati. "Semoga kamu jera, makanya lain kali jangan berbohong".

Kesimpulan

Walau legenda tentang Oyo dan Susua bisa dikatakan hanya sebatas mitos, namun ada beberapa hikmah dan nasehat yang bisa kita ambil dari kisahnya, berikut uraiannya.

  • Jangan menghianati persahabatan. Persahabatan yang sudah terjalin selama ini, alangkah lebih baik bila dijaga dengan baik. Jangan saling melukai, hindari sifat keegoisan. Upayakan untuk saling mendukung, saling berbagi dan memberi semangat satu sama lain. Junjung tinggilah nilai sebuah persahabatan, sahabat akan selalu ada baik dalam suka maupun duka.

  • Tepatilah janjimu. Seperti pepatah yang mengatakan bahwa janji adalah utang. Untuk itu, hindari sikap ingkar janji, usahakan untuk saling mengingatkan, tetap pada pendirian dan menepati janji tentunya.

  • Janganlah sesekali berbohong. Siapa sih yang mau dibohongi? Saya, sobat, dan teman-teman semuanya tentu tidak mau kalau dibohongi. Untuk itu, janganlah berbohong kepada teman, kerabat, saudara, apalagi kalau sama sahabat. Sakit lho rasanya kalau dibohongi, seperti diberi harapan palsu.

Selain nasehat, ada juga pesan yang bisa kita petik dari cerita nusantara "Oyo dan Susua" yaitu baiknya jangan mengutuk orang lain hanya karena dia sudah berbuat salah. Bisa jadi dia khilaf / terpaksa atau karena alasan tertentu. Mendo'akannya jauh lebih tepat. Kalau perlu panggil dan bicara baik-baik kepadanya. Beritahu kesalahannya dan biarkan dia perbaiki dan berjanji untuk tidak mengulangnya lagi. Namun, bila juga tidak mau berubah, ya biarkan saja. Urusan hukum menghukum, hakim mengahakimi, itu urasan sang pencipta. Yakin dan percaya, apa yang ditabur pasti itu juga yang akan dituai.

Baiklah teman-teman sekian cerita rakyat Nias "Oyo dan Susua", semoga bermanfaat. Jangan lupa share kepada teman-teman yang lain. Ya'ahowu.

Post a Comment