Mengenal Mitos Suku Nias Yang Masih Ada Hingga Saat Ini

Mitos Suku Nias

Berbicara tentang mitos suku Nias memang tidak pernah hilang dari sisi kehidupan setiap individu masyarakat Nias. Sudah ada sejak dulu dan tetap lestari dengan baik hingga saat ini. Wajar saja, meski mitos ini tidak masuk akal dan sebagian menganggapnya fiktif namun karena sudah menjadi buah bibir dan sudah ter-set elok sehingga membuatnya berkembang baik ditengah-tengah masyarakat yang pada akhirnya tak sedikit yang percaya akan kebenarannya.

Sebagian yang percaya menuturkan kepada teman / sahabat / saudara / tetangganya karena pernah mengalami dan membuktikannya sendiri (mungkin secara kebetulan). Lalu, diceritakan kembali ke orang lain, cerita ini terus menerus dilakukan dan ternyata cukup populer. Tak bisa kita pungkiri bahwa saat ini mitos suku Nias sudah berada ditempat yang strategis dan sulit dihilangkan oleh karena ulah masyarakat itu sendiri.

Teringat saja, saat masih kecil seringkali orang tua menegur untuk tidak bermain-main diluar rumah bila hari sedang panas disertai hujan rintik-rintik, nanti sakit katanya. Demikian halnya bila anak-anak lewat dijalan saat malam hari, tak lupa mereka ingatkan untuk pakai penutup kepala seperti topi atau menggunakan kain biasa.

Ini termasuk mitos atau fakta sih?? Apa saja mitos suku Nias??

Sebelum menjawab, simak dulu ulasan berikut.



Apa itu Mitos?

Menurut Webster's Dictionary, mitos adalah suatu perumpamaan atau alegori yang keberadaannya itu hanya merupakan khayal yang tak dapat dibuktikan

Pendapat ini sejalan dengan pandangan Ahimsa-Putra yang mengatakan bahwa mitos adalah suatu cerita aneh yang seringkali sulit dipahami maknanya atau juga diterima kebenarannya disebabkan karena kisah didalamnya tidak masuk akal atau juga tidak sesuai dengan apa yang kita temui sehari-hari.

Mitos suku Nias sendiri terlahir sejak nenek moyang masyarakat Nias masih belum ber-Tuhan atau masih percaya dengan hal-hal gaib. Arwah orang tua yang sudah meninggal dianggap masih memiliki kekuatan dan mempunyai pengaruh di dalam kehidupan ahli warisnya. Konon katanya, bila sempat melanggar apa yang sudah disepakati orang tua / nenek moyang terdahulu maka akan mengalami nasib sial, terkutuk, dll (bahasa Nias: si lö mogo'ö goi-goi nifakhoi zatua föna ba sigöna lakha-lakha).

Setelah masuknya agama kristen di pulau Nias, perlahan-lahan mitos ini mulai berkurang dan bahkan bagi orang yang memercayainya dianggap tidak beriman (bahasa Nias: niha si lö famati). Makanya bila ada orang yang menceritakannya sering dilemparkan kalimat hana mane niha si lö famati ndraugö (Mengapa engkau seperti orang yang tidak beriman?).

Jadi bisa disimpulkan bahwa:

Mitos adalah tradisi lisan yang mengisahkan cerita fiktif yang kebenarannya diragukan namun sudah terbentuk menjadi sebuah kebiasaan oleh karena ulah masyarakat itu sendiri.

Saya sendiri tidak begitu percaya dengan mitos, bagaimana dengan sobat?


Ciri - Ciri Mitos

Berikut ciri-ciri mitos, yaitu:

  1. Sudah ada sejak nenek moyang dulu
  2. Berupa fiktif karena tidak termuat dalam aturan manapun
  3. Tidak tertulis di dalam alkitab atau kitab suci agama apapun
  4. Dipercaya benar-benar terjadi oleh masyarakat yang tinggal didaerah tertentu
  5. Terdengar aneh namun berarti dan dianggap penting oleh masyarakat disuatu daerah
  6. Sudah berterima ditengah masyarakat yang menetap disuatu wilayah dan dianggap terkutuk bila melanggarnya

Fungsi Mitos

Setiap daerah memiliki mitos yang berbeda-beda. Keberadaannya pun memiliki fungsi dan makna tertentu.

Berikut fungsi mitos dalam kehidupan masyarakat, yaitu:

  1. Sebagai sarana untuk menjaga keberadaan pilar janji yang telah diputuskan oleh orang tua zaman dulu (goi-goi zatua meföna)
  2. Pegangan masyarakat disuatu daerah agar berhati-hati dalam bersikap agar tidak kena kutukkan.
  3. Salah satu ciri khas pembeda antar daerah yang satu dengan lainnya

Mitos Suku Nias

Sebagai informasi untuk kita semua, berikut admin uraikan mitos suku Nias yang wajib sobat ketahui karena masih diyakini hingga saat ini, yaitu:

1. Mitos Pernikahan

Berikut mitos dalam pernikahan adat orang nias, yaitu:

  • Sudah menjadi kebiasaan orang Nias, sebelum lanjut ke jenjang pernikahan maka pihak keluarga laki-laki akan berkunjung ke rumah calon pengantin perempuan untuk pertama kalinya. Dalam bahasa Nias, tahap ini diistilahkan mamaigi niha. Nah, saat keluarga laki-laki tiba dirumah calon pengantin perempuan namun secara kebetulan si perempuan sedang atau baru saja pulang mandi maka diyakini bila keduanya menikah maka keluarga mereka bisa bahagia dan akan mendapat rezeki yang berlimpah.

  • Sebelum ada kesepakatan pernikahan diantara laki-laki dan perempuan maka akan diramal dengan menggabungkan nama lengkap keduanya, istilah Nias-nya la fa'a. Ramalan ini berfungsi untuk melihat bagaimana mereka menjalani keluarga mereka ke depan, entah itu kepemilikan harta benda, keberuntungan atau malah menemui berbagai masalah kedepan seperti ada duka, sering berantam, dsb.

  • Jika sudah mulai menjalani tahapan pernikahan seperti tunangan (mame'e laeduru) namun belum sampai hari H, bila ada anggota keluarga yang meninggal baik dari pihak calon laki-laki maupun perempuan maka diyakini kedepan akan kena musibah yaitu salah satunya akan meninggal.

  • Bila pesta pernikahan telah usai, maka pengantin laki-laki harus memanggil si'o (orang kepercayaan keluarga pengantin laki-laki yang menyampaikan informasi saat menjalani rangkain tahapan pernikahan) ke rumah. Tahapan ini sebagai acara ritual do'a untuk berterima kasih atas jerih payah, beban, tanggung jawab yang diberikan si'o selama ini. Konon katanya, bila ritual ini tidak dilakukan maka pengantin baru kesulitan dalam mendapatkan berkat seperti tidak ada keturunan, tidak ada ada rezeki, dll

2. Mitos Bila Istri Hamil (Mengandung)

Baik suami maupun istri (ayah dan ibu), ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan sampai si istri melahirkan. Menjaga sikap dan perilaku saat istri sedang mengandung merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh suami dan istri. Bila pantangan ini dilanggar maka si ibu akan sakit (göna buru) dan akan ada pengaruhnya bagi calon bayi yaitu göna ni angahalö'ö.

Langsung saja, inilah mitos kehamilan menurut tradisi suku Nias yaitu:

  • Si Ibu tidak boleh lewat hujan rintik-rintik dan ke luar rumah pada malam hari
  • Saat dirumah, si ibu harus tetap mengikat rambut kecuali bila selesai keramas, tidak boleh mandi lewat jam 6 sore
  • Ibu tidak boleh berlama-lama di air entah itu saat mandi atau menyuci kain (göna buru idanö)
  • Suami tidak boleh melempar apalagi bila sampai membunuh binatang
  • Suami dilarang ikut saat menggali kuburan sekalipun itu kuburan anggota keluarga
  • Ayah dan ibu tidak boleh memegang atau bersentuhan dengan orang yang sudah meninggal

3. Mitos Upacara Adat

Berikut mitos dalam upacara adat yang diadakan oleh orang Nias, yaitu:

  • Dalam upacara pernikahan adat Nias, pihak keluarga laki-laki maupun perempuan harus menjalani setiap tahapan adat baik sebelum maupun sesudah pesta pernikahan, seperti famagölö yomo ba wamaigi niha, fame'e laeduru, fanunu manu, femanga bawi nisila hulu, famotu bene'ö, folohe bawi, falöwa, dll. Masing-masing tahapan memiliki penamaan adat yang harus dipenuhi. Konon bila tahapan dihilangkan dan tidak dipenuhi maka akan kena hukuman dari arwah nenek moyang (göna lakha-lakha)

  • Begitu juga saat upacara adat penguburan orang yang meninggal, ada beberapa tahapan adat yang harus dilalui antara lain femanga gö bongi, fame'e ba geu / hasi, fogo'o, fangasi, dll. Bila tidak melalui setiap tahapan yang ada (apalagi bila tokoh adat) maka akan kena hukuman sosial yaitu dikucilkan dan menjadi cibiran masyarakat sekitar serta lakha-lakha dari nenek moyang

  • Upacara untuk memperoleh gelar kepala adat balugu di Nias maka harus melalui semua bosi yang sudah ditetapkan dan harus mengadakan pesta besar-besaran dengan mengundang kepala adat dari berbagai wilayah (öri). Bila ini tidak dilalui secara penuh (lö safönu) maka lakha-lakha zatua föna akan menanti yang bisa mengakibatkan nyawa yang bersangkutan bisa terenggut

4. Mitos Saat Sakit

Beberapa mitos yang diyakini orang Nias bila sakit, yaitu sebagai berikut:

  • Bila anak-anak lewat saat hujan panas maka kemungkinan anak tersebut akan sakit istilah dalam bahasa Nias yaitu tesafo
  • Beberapa penyakit seperti bisul, demam tinggi, sakit dibagian tumit kaki (tandro lahe), dsb, orang Nias beranggapan bahwa penyakit itu akibat dari santet / guna-guna orang tertentu (menuduh orang yang pernah berselisih paham). Makanya tak sedikit yang mengobatinya dengan menggunakan bantuan dukun dan meminum ramuan obat dari tanaman yang sudah dikumpulkan dan diolah sendiri oleh sidukun.

5. Mitos Tentang Binatang

Berikut mitos bila bertemu dengan binatang menurut tradisi orang Nias, yaitu:

  • Bila didatangi burung towi-towi dan berkicau dekat rumah maka orang Nias percaya bahwa akan ada kabar baik seperti ada anggota keluarga yang pulang dari perantauan (dulu, memang benar-benar tidak bisa memberi kabar kalau mau pulang karena tidak ada hp genggam)
  • Rumah didatangi kupu-kupu, ini pertanda bahwa rumah tersebut akan kedatangan tamu
  • Ular masuk rumah, dianggap arwah orang tua / leluhur. Baiknya di usir dan tidak boleh dibunuh

Kesimpulan

Haruskan kita mempercayai mitos?? Kembali pada diri sendiri, menurut saya. Namun, sebagai orang beriman tentu tidak wajar bila percaya dengan cerita fiktif yang masih diragukan kebenarannya. Walau demikian bukan berarti meremehkannya, baiknya dijadikan sebagai pegangan / jaga-jaga saja, tak perlu memikirkan sekali efek / akibat yang terjadi. Ingat bahwa dengan menakutinya maka secara tidak langsung sobat juga sudah percaya dengan kebenaran akan mitos.

Demikian ulasan tentang mitos suku Nias yang masih ada hingga saat ini. Mohon saran dan tanggapan bilamana masih ada yang kurang sesuai dari ulasan ini, mimin siap update dan perbaiki demi penyajian tulisan yang jauh lebih baik dan bermanfaat. Salam Ono Niha, Ya'ahowu.

Post a Comment