Tradisi Penghormatan Ono Mbene'ö Kepada Sibaya atau Fa'uwusa

Penghormatan kepada sibaya

Penghormatan Sibaya atau Fa'uwusa - Sambua mbanua ba sambua mbua-bua salah satu peribahasa Nias atau amaedola li nono niha yang menunjukkan bahwa setiap wilayah atau daerah mempunyai budaya dan adat istiadat yang berbeda.

Nias dikenal sebagai salah satu daerah yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan adat istiadat warisan leluhur. Warisan tersebut masih terjaga utuh dan tetap dilestarikan hingga saat ini.

Tak bisa dipungkiri bahwa menjaga sebuah peradaban budaya memanglah sulit mengingat wilayah pulau Nias dikelilingi oleh gempuran kultural budaya yang beragam dan bisa saja dengan mudah sebenarnya mengadopsi sistem kultural budaya global yang mudah ditiru dan diterapkan.

Dan ini menjadi satu hal yang perlu kita syukuri, bahwa pengaruh budaya luar sangatlah sulit masuk ke dalam sistem peradaban budaya daerah Nias, oleh karena budaya Nias sudah terpatri permanen didalam setiap sanubari masyarakat suku Nias.

Berbicara tentang tradisi suku Nias maka ada saja hal selama ini yang mungkin sudah kita ketahui tetapi tanpa kita sadari merupakan bagian tradisi masyarakat suku Nias yang sudah ada sejak dulu.

Salah satunya adalah tradisi penghormatan keponakan (ono mbene'ö) kepada saudara laki-laki dari ibu atau paman, bahasa Nias-nya sibaya atau uwu atau fa'uwusa.

Penghormatan

Penghormatan adalah proses, cara, perbuatan menghormati atau suatu perwujudan dari penghargaan seseorang terhadap orang lain atas dasar tata susila.

Di daerah Nias, cara pemberian penghormatan kepada seseorang bisa dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya, ketika bertemu dengan orang tua maka kita mengucapkan kata "Ya'ahowu Ama/Ina" sambil menyalaminya, mempersilahkan tamu untuk duduk kemudian memberi mereka minuman, membungkukkan badan ketika lewat didepan orang yang lebih tua dari kita, dan lain sebagainya.

Walaupun cara ini belum tertulis tetapi sudah menjadi kebiasaan yang didalamnya sudah terkandung nilai dan norma kesusilaan.

Sibaya atau Fa'uwusa

Menurut pemandangan orang Nias, sosok yang harus dihormati selain kedua orang tua adalah paman atau sibaya / uwu. Walaupun di dalam KBBI, paman diartikan sebagai saudara laki-laki dari ibu, tetapi bagi masyarakat Nias sebutan paman diperuntukkan bagi saudara laki-laki dari ibu atau laki-laki yang satu marga dengan ibu.

Tradisi Penghormatan Kepada Sibaya atau Fa'uwusa

Bentuk penghormatan yang bisa dilakukan ono mbene'ö (keponakan) kepada sibaya atau fa'uwusa, antara lain:

1. Saat berjumpa dengan sibaya baik diperjalanan ataupun dimana saja, keponakan (ono mbene'ö) harus menyapa lebih dahulu "Ya'ahowu Sibaya" sambil menyodorkan tangan sebagai tanda untuk mengajak berjabat tangan.

2. Bila sibaya mengunjungi rumah keponakannya, maka si keponakan memotong seekor babi dan menyuguhkannya dalam satu wadah sebagai salah satu simbol fasumangeta kepada sibaya.

3. Bila keponakan datang kerumah paman maka harus molöwö kepada sibaya atau membawa olöwöta yaitu rahang babi (simbi) yang disusun dalam sebuah tempat dan dibungkus dengan mowa.

4. Fanefe idanö

Bila keponakan berkunjung kerumah paman, keponakan juga bisa meminta do'a dari uwu agar tetap sehat dan diberkati. Tata cara pelaksanaan hal ini dinamakan fanefe idanö.

5. Famaola ba nuwu

Di pulau Nias, sudah menjadi tradisi bila ada acara seperti pesta pernikahan, sudah tentu dihadiri oleh seluruh warga kampung. Agar seluruh warga kampung mengetahui waktu dan perihal acara serta turut hadir saat acara berlangsung, maka pihak keluarga pangkalan berkewajiban menginformasikan kepada tetangga atau warga kampung dengan mendatangi rumah masing-masing warga, diistilahkan mogaoni.

Selain warga kampung, orang tua juga mesti mengabarkan kepada sibaya/uwu agar saat pesta berlangsung mereka turut hadir, terlebih fa'uwusa merupakan pihak yang wajib datang.

Nah, untuk menginformasikan hal ini, orang tua memberitahukan dengan cara berkunjung ke rumah paman mempelai wanita, bahasa Nias diistilahkan famaola ba nuwu.

Adapun yang harus dibawa adalah olöwöta, afo dan sumange nuwu (dalam bentuk uang) yang diambil dari mahar atau böwö. Besar sumange disesuaikan dengan kesepakatan bersama. Biasanya semakin besar böwö yang diminta oleh orang tua maka sumange untuk sibaya juga semakin besar.

Sumange nuwu hanya sebatas bentuk penghormatan saja, mereka nantinya akan mengembalikan kepada si-mempelai wanita dalam bentuk barang seperti payung (fayo ni'owalu), perhiasan, dll. Nilai barang yang diberikan oleh fa'uwusa bahkan lebih besar dari nilai sumange yang diberikan oleh orang tua si-mempelai wanita. Inilah bentuk kasih sayang fa'uwusa kepada keponakan mereka, bahasa Nias-nya masi-masi nuwu.

6. Famolaya uwu

Famolaya uwu dilakukan saat pergelaran pesta pernikahan, khususya bila posisi mempelai wanita sebagai ono mbene'ö. Biasanya acara pesta pernikahan tidak bisa dimulai sebelum fa'uwusa sampai dilokasi pernikahan, terkecuali bila ada izin dari mereka.

Cara pelaksanaan famolaya uwu di daerah Nias yaitu dimulai saat rombongan fa'uwusa hampir tiba dihalaman rumah mempelai wanita, fa'uwusa disambut dengan membunyikan alat musik tradisional Nias seperti göndra, garamba, dan faritia. Seterusnya mereka dipersilahkan duduk ditempat yang sudah dikhususkan. Kemudian mereka disuguhkan afo.

Fa'uwusa akan mengikuti acara hingga selesai. Pada saat acara makan mereka juga disuguhkan rahang babi (simbi) kemudian mereka diberi 1-2 ekor babi.

Kesimpulan

Penghormatan (famosumange) sibaya merupakan salah satu tradisi yang masih ada hingga sekarang. Orang Nias meyakini bahwa hormat kepada sibaya maka akan terberkati dan juga memungkinkan sebagai salah satu cara agar mendapat kemudahan rezeki - setelah kedua orang tua.
Mari menjaga dan melestarikan adat dan budaya Nias dan berupaya agar tidak kehilangan ke-Niasan-nya

Ada Saran dan Pertanyaan???

Silahkan isi dikolom komentar dibawah.

Demikian dan semoga bermanfaat. Salam Ono Niha - Ya'ahowu.


Post a Comment