Tari Baluse, Tarian Ala Prajurit Perang Suku Nias
September 22, 2021
Published
May 07, 2020
Tari Baluse Suku Nias - Kita mengetahui bahwa setiap daerah di
Indonesia memiliki tradisi, budaya dan adat istiadat yang berbeda-beda,
begitu juga halnya dengan daerah Nias.
Ada banyak sekali tradisi, budaya dan adat istiadat yang bisa kita temui
disana. Sebut saja seperti
tari moyo,
hombo batu, tari maena, dll. Tradisi lainnya yang tak kalah populer dari daerah
Nias yaitu Tari Baluse. Apa itu tari baluse?.
Tari baluse adalah tarian tradisional Nias yang menggambarkan kegagahan
seseorang layaknya ksatria atau prajurit perang dari daerah Nias saat di
medan peperangan. Itu makanya tarian ini juga diistilahkan dengan tari
perang.
Tari perang berasal dari daerah Nias dan termasuk salah satu budaya unik suku Nias
Sebagian orang menyebut tarian ini sebagai Tari Fataele atau
Maluaya. Biarpun penyebutannya berbeda-berbeda akan tetapi pada
prinsipnya tarian ini sama.
Tarian unik ini dimainkan oleh sejumlah laki-laki yang cukup kuat dan
perkasa sebagai bentuk perwujudan ciri khas dan kebiasaan masyarakat Nias
zaman dulu dalam menjaga keamanan desa/kampung dari serangan musuh demi
terciptanya kenyamanan dan ketentraman sukunya.
Asal Usul Tari Baluse
Tarian ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu bersamaan dengan
lahirnya tradisi hombo batu atau lompat batu.
Zaman dulu, perebutan dan sengketa antar wilayah yang akhirnya memicu
peperangan diantara wilayah-wilayah di daerah pulau Nias kerap terjadi .
Setiap wilayah wajib mempersiapkan tentara atau prajurit yang selalu siap
siaga apabila secara tiba-tiba ada serangan musuh atau orang yang
mengganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat di wilayahnya.
Prajurit dilatih untuk menangkis serangan musuh, menyerang musuh dan juga
melindungi diri agar bisa bertahan hidup.
Oleh karena saat ini masyarakat Nias sudah beragama dan mengenal Tuhan,
peperangan antar wilayah tidak pernah terjadi lagi. Masyarakat Nias telah
hidup damai dan keamanan masing-masing wilayah dinegara kita sudah menjadi
bagian tugas dari TNI/Polri.
Untuk melestarikan kebiasaan dari tentara atau prajurit perang masyarakat
Nias zaman dulu, maka setiap teknik dan gerakannya dibuat dalam bentuk
tarian seperti yang kita kenal saat ini yaitu tarin perang atau tari
baluse.
Gerakan Tari Baluse
Bagaimana cara melakukan tari baluse??
Pertunjukkan tari baluse dilakukan oleh minimal 12 orang pria, dan bila
lebih maka akan lebih baik. Tarian ini dipimpin oleh seorang komandan
sebagai pemberi aba-aba tarian. Mula-mula formasi penari membentuk barisan
berjajar panjang dengan posisi komandan berada di posisi depan, berhadapan
dengan penari.
Tarian ini diawali dengan gerakan kaki yang maju mundur sambil dihentakan
ke tanah, secara bersamaan baluse yang ada di tangan kiri digerakkan
mengikuti pola gerakan kaki.
Bila sudah saatnya maka komandan akan memberi aba-aba untuk membentuk
formasi melingkar. Pada saat formasi ini kegiatan fataele akan diperagakan
secara bergantian oleh penari. Kegiatan fataele dilakukan secara
berpasangan, keduanya seolah-olah sedang melakukan perang. Gerakannya
yaitu bila yang satu menyerang dengan tombak atau pedang maka yang lain
akan menangkisnya dengan baluse. Gerakan ini dilakukan sebaliknya secara
bergantian.
Inti dari gerakan ini yaitu seorang penari harus mampu menguasai teknik
menyerang, menangkis serangan dan bertahan hidup.
Sepanjang pertunjukkan tarian ini, penari dan komandan menyanyi atau
meneriakkan kata-kata pembakar semangat secara bergantian.
Tarian ini dilakukan di lapangan terbuka dan cukup luas.
Saat ini, tari baluse dimainkan sebagai tari penyambutan tamu khusus.
Properti Tari Perang
Ada beberapa properti yang tidak boleh tidak ada dalam memainkan tari
perang / tari baluse. Malah properti ini merupakan ciri khas pembeda antar tarian
lainnya dan sering dianggap sebagai penanda bahwa tarian yang sedang
dimainkan merupakan tari baluse asal Nias. Adapun yang menjadi properti
penari tari perang / baluse yaitu: perisai, tombak, pedang, pakaian perang
dan mahkota.
1. Baluse (Perisai)
Baluse merupakan perlengkapan utama penari. Baluse terbuat dari kayu
dengan bentuk menyerupai daun pisang. Memiliki ukuran panjang kurang lebih
126 cm dan lebar kurang lebih 30 cm dengan berat kurang lebih 1,1 kg.
Baluse merupakan perisai atau tameng yang berguna untuk melindungi diri
dan menangkis serangan tombak dan pedang dari lawan. Baluse biasanya
berada di tangan sebelah kiri penari.
2. Toho (Tombak)
Toho merupakan properti penting dalam tari perang dan dikenal sebagai
salah satu senjata tradisional Nias. Toho adalah senjata yang terbuat dari
besi yang sudah ditempa dengan ujung runcing dan tajam.
Selain itu, dibuat dengan ukuran yang cukup panjang dan digunakan dengan
cara melempar kearah lawan. Toho biasanya sangat mematikan dan digunakan
sebagai salah satu senjata utama prajurit perang suku Nias. Makanya
senjata ini sering kali disandingkan sebagai pasangan serasi dari baluse.
Saat ini, toho masih kerap digunakan oleh masyarakat Nias sebagai senjata
berburu dan melindungi diri saat pergi ke kebun atau ke hutan.
3. Gari (Pedang)
Gari juga termasuk salah satu senjata tradisional Nias. Gari merupakan
senjata yang terbuat dari besi yang sudah ditempa dan sebelum digunakan
biasanya diasah dengan menggunakan batu pengasah khusus.
Sebelum digunakan, gari diikat dipinggang setiap penari. Penari
menggunakannya setelah toho sudah dilemparkan ke arah lawan. Gari
merupakan pedang samurainya suku Nias.
Tombak ataupun pedang biasanya berada di tangan kanan penari sebagai alat untuk menyerang lawan atau musuh. Sementara ditangan kiri, memegang baluse sebagai alat pertahanan dan menangkis serangan dari lawan.
4. Pakaian Perang dan Mahkota
Setiap penari juga mengenakan pakaian tari khusus (pakaian perang) yang
sudah didesain dengan motif unik dan warna khas daerah Nias yaitu merah,
kuning, dan hitam, dilengkapi dengan mahkota di atas kepala. Adapun
pakaiannya terdiri dari baju menyerupai rompi namun berukuran agak besar
serta celana pendek sampai lutut.
Fungsi dan Makna Tari Baluse
Tari baluse merupakan tarian yang menggambarkan seorang prajurit yang
kuat, gagah dan perkasa. Dalam pertunjukkannya dibutuhkan kerjasama dan
teknik khusus terutama saat memainkan peran fataele. Tarian ini berfungsi
sebagai tarian pemersatu dan simbol kedamaian diantara sesama masyarakat
Nias.
Tari perang bukan berarti melakukan perang sungguhan. Tarian ini hanya
sebatas tarian untuk melestarikan warisan budaya nenek moyang suku Nias.
Tarian ini bisa dimaknai sebagai tarian yang menyatakan seorang laki-laki
yang bertanggungjawab, melestarikan budayanya dan siap melindungi
keluarga, suku dan wilayahnya.
Kesimpulan
Tari baluse, tari yang sungguh unik, tari yang menggambarkan ciri khas
daerah Nias. Menjaga dan melestarikannya merupakan tanggunjawab besar
setiap insan masyarakat suku Nias.
Ada saran dan pertanyaan?
Silahkan isi dikolom komentar dibawah dan mari mendiskusikannya bersama.
Demikian ulasan tentang
tari baluse (tari perang) dari daerah Nias
dan semoga bermanfaat. Salam Ono Niha -
Ya'ahowu.





